Rabu, 22 Januari 2014

Korean Language (Kosa Kata Sehari-hari)

( Ye ) Ya
( A, Ne ) O, ya
( Anio ) Tidak
( Mulon Imnida ) Tentu saja
( anyong haseyo ) Apa kabar ? Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam
( Annyong hasimnika ? ) Apa kabar ? Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam
( Annyonghi Gasipsiyo ) Selamat Jalan
( Annyonghi Gaseyo ) Selamat Jalan ( Informal )
(Annyonghi Gyesipsiyo ) Selamat Tinggal
( Annyonghi Gyeseyo ) Selamat Tinggal ( Informal )
( Annyonghi Jumuseyo ) Selamat Tidur
( Cal Cayo ) Selamat Tidur (Informal )
( Oso Osipsiyo ) Selamat datang / Silahkan Masuk
( Oso Oseyo ) Selamat datang / Silahkan Masuk ( Informal )
( Deuro Osipsiyo ) Silahkan Masuk. ( Yang menyuruh didalam )
( Deuro Oseyo ) Silahkan Masuk ( Informal )
( Deuro Gasipsiyo ) Silahkan Masuk ( Yang menyuruh berada diluar)
( Deuro Gaseyo ) Silahkan Masuk ( Yang menyuruh berada diluar )
(Ottokhe Jinesimnika) Bagaimana Kabar anda ?
( Ottokhe Jineseyo ) Bagaimana Kabar anda ? ( Informal )
( Cal Cinemnida ) Baik – baik saja
( Cal Cineyo ) Baik – baik saja ( Informal )
( To Mannapsida ) Sampai Jumpa lagi
( To Mannayo ) Sampai jumpa lagi ( Informal )
( Sile Hamnida ) Permisi
( haseyo ) Silahkan
( Pan gapseumnida ) Senang berjumpa anda
( Pan gawoyo ) Senang berjumpa anda ( Informal )
( Kamsa hamnida ) Terima kasih
( conman heyo ) Terima Kasih kembali
( Chon maneyo ) Terima kasih kembali ( Informal )
( Cwe song hamnida ) Mohon maaf
( Cwe song heyo ) Mohon maaf ( Informal )
 ( Mian hamnida ) Maaf
( Mian heyo ) Maaf ( Informal )
( Kwen chan seumnida ) Tidak apa-apa
( Kwen chan ayo ) Tidak apa-apa (Informal)
( Cap deuseyo ) Silahkan makan
( Siksa hasipsiyo ) Selamat makan
( Siksa haseyo ) Selamat makan (Informal)
( Oneul jeul gowo seyo ) Hari ini sangat menyenangkan(Informal)
( Ju mal cal cineseyo ) Selamat berakhir pekan (Informal)
( Ne, iseumnida ) Ya, ada/punya
( Ne, issoyo ) Ya, ada/punya (Informal)
( Anio, opseumnida ) Tidak, tidak/tidak punya
( Anio, opsoyo ) Tidak, tidak/tidak punya (Informal)
( Pegophayo ) Lapar
( Andweyo ) Jangan
( Yoboseyo ) Hallo
( Juseyo ) Minta
( Billyo Juseyo ) Pinjam
( Arayo ) Tahu, mengerti
( Molayo ) Tidak tahu, tidak mengerti
( Aratsoyo ) Sudah tahu, sudah mengerti
( Aigo ) Aduh
( Wihomhe ) Awas
( Coahyo ) Bagus
( Geureyo ) Bagus? / iya / benar
( Cwegoda ) Asyik
( Congmal ) Sungguh
( Kojitmal ) Bohong
( Gwa yon ) Kemudian
( Andwe / Hajima ) Jangan
( Solma ) Masa
( Gayophsora ) Kasihan
( Cegiral ) Sialan
( Ta wasso yo ) Sudah sampai
( Ajik moro yo ) Masih jauh
( Jina soyo ) Sudah lewat
( culbal ) Berangkat
( Tojak ) Sampai / tiba
( cokum ittaka ) sebentar lagi
( arrayo ) tahu


( Molla ) Tidak tahu

yang ini cerpen karangan sahabat aku nihh :)

“SATU JAM UNTUK SAHABAT”
(karya : Siti Mutiah)
            Hari terasa begitu cepat berganti,siang menjadi malam. Di sore hari yang cerah ini terlihat 2 orang sahabat yang sedang menikmati indahnya pemandangan di taman.
Sandra menatap pilu wajah Dennis,seorang sahabat yang kini menderita penyakkit kelainan jantung. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua,hari semakin sore,sinar mentaripun sudah meredup dan cuaca semakin dingin.
Sandra kemudian mengajak Dennis untuk pulang ke rumahnya,selama di prjalanan mereka selalu bercanda dan bergurau.
Mereka berdua bersahabat sejak kecil dan sejak kecil pula Dennis telah di vonis oleh dokter mengidap penyakit kelainan jantung.
            Dennis tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya,dia selalu semangat menjalankan hari-harinya bersama orang-orang yang dia sayangi. Ayah Dennis seorang Dokter namun tetap dia tidak bisa menyembuhkan anaknya. Kedua orang tua Dennis begitu tegar menghadapi cobaan yang menimpa anak semata wayangnya itu.
            “Mah haruskan Dennis melakukan kemo lagi ?” kata Dennis kepada sang mamah. “tentu sayang kamu harus melakukan kemo,kamu harus yakin kalau kamu pasti sembuh”. Kata sang mamah menyemangati Dennis.
“Iya nis kamu harus semangat,nggk boleh putus asa seperti itu”. Kata Sandra ikut memberikan semangat.
            Satu minggu Dennis tidak masuk sekolah dan Sandrapun merasa kesepian. Namun hari ini Dennis masuk sekolah dan pastinya dia tertinggal banyak pelajaran. Mereka satu sekolahan dan satu angkatan tetapi beda kelas,Sndra kelas XII IPA 1 dan Dennis kelas XII IPA 3.
“Sandra nanti pulang sekolah ke rumah aku dulu yah,aku mau mimta di ajarkan pelajaran-pelajaran yang tertinggal kemarin”.Kata Dennis “oke nis siap kebetulan aku pulang sekolah tidak ada kegiatan”.Kata Sandra
Mereka berdua belajar sampai sore.
            Mereka berdua sangat dekat,mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Banyak orang yang menyangka bahwa mereka itu sepasang kekasih,tapi nyatanya tidak mereka hanya sebagai sahabat.
            Pagipun tiba,Sandra dengan semangatnya berangkat ke sekolah. Setiba di sekolah Sandra mencari sosok Dennis di kelasnya,tetapi yang di carinya tidak ada. “Heii !”katanya pada salah satu teman sekelas Dennis. “kau lihat Dennis tidak?”
Teman sekelas Dennis menjawab, “kau belum tahu ya? tadi malam Dennis di bawa ke rumah sakit. Katanya kini dia di rawat di ICU !”
             Sandra tak percaya mendengar berita itu. Kemarin sore Dennis masih sempat belajar dan bercanda dengannya.
Sepulanng sekolah Sandra langsung pergi ke rumah sakit dan di depan ruang ICU sandra melihat papah Dennis sedang duduk sambil menutup wajahnya. Sandra mendekatinya sambil terengah-engah dan duduk di samping lelaki itu.
            “Oom !” katanya sambil menelan ludah, “bagaimana keadaan Dennis?”
            Papah Dennis membuka matanya dan menatap Sandra. “Dia sekarang sedang tidur,keadaannya sudah membaik.”
Sandra begitu lega, “syukurlah kalau begitu!”
            “Jantungnya sempat berhenti tadi pagi!”kata papah Dennis sedih.
Sandra hampir menangis mendengar berita itu.
“Aku ayah yang payah!” desah papah Dennis, “aku bisa menyelamatkan nyawa orang lain,tetapi nyaris tidak mampu menyelamatkan nyawa anakkku sendiri.”
Sandra menghibur lelaki di sampingya “oom gak payah ko! Dennis saja bercita-cita ingin menjadi Dokter seperti oom.”
“Oya?” papah Dennis sedikit terhibur. Sandra mengangguk sambil tersenyum. “oom boolehkan saya menemui Dennis?”
“kenapa tidak,silahkan saja Sandra”katanya.
Sandra masuk ke ruangan Dennis,tetapi Sandra hanya bisa melihatnya saja,dia tidak bisa mengobrol dengan Dennis karena Dennis sedang beristirahat.
            Lima hari kemudian Dennis membereskan barangnnya dari lemari rumah sakit,dan tentunya Sandra juga ikut menemaninya. Hari ini Dennis akan pulang dari rumah sakit karena para Dokter sudah mengizinkannya untuk pulang.
            Di pagi hari yang cerah ini Sandra dan Dennis sangat bersemanngat untuk berangkat ke sekolah,mereka berdua berangkat bersama.
Sepulang sekolah mereka pergi ke taman,seperti biasa mereka selalu pergi ke taman setelah pulang sekolah.
Di lihatnya sekeliling mereka,terlihat banyak orang yang sedang berolah raga atau bermain di sore hari.
            “Dennis apakah kau pernah berolah raga atau bermain seperti yang lainnya?”kata Sandra kepada Dennis
“Aku tidak suka berolah raga,walaupun aku berolah raga,itu tidak boleh terlalu cape,aku tidak bisa merasakan kehidupan normal seperti yang lainnya!”kata Dennis jujur. Sandra menatap Dennis dengan sedih dan menggenggam tangannya.
            “Sandra...”kata Dennis tiba-tiba, “ada yang harus ku katakan padamu.”
            “Apa?”
            Dennis menarik napas “kemarin papah berbicara padaku. Katanya para Dokter menyarankan agar aku menjalani operasi jantung.”
“Kenapa?”protes Sandra, “bukankah kau baik-baik saja? Minggu kemarin kau keluar dari rumah sakit karena kamu sudah  membaik,kan?”
Dennis menggeleng, “kemarin aku menjalani pemeriksaan lagi,para Dokter menyimpulkan bahwa aku harus menjalani operasi.”
            “Apakah begitu parah?” tanya Sandra sedih
            “Aku sungguh tidak tahu!”kata leon, “operasi ini sangat beresika papah tidak mau aku menjalaninya,tapi ada kemungkinan aku bisa sembuh setelah menjalaninya!”
            “Tapi ada kemungkinan kau juga akan mati!”Sandra menyelanya
            Dennis mengangguk.
            “Kalau begitu jangan di operasi!”kata Sandra “setidaknya kau masih bisa hidup lebih lama lagi,kan?”
Dennis menatap Sandra. “Tapi aku sudah memutuskan untuk menjalani operasi!”
“Mengapa?!!”teriak Sandra “kau bisa mati Dennis!!”
“Aku tahu!”balas Dennis keras.
“Baiklah,kalau itu sudah menjadi keputusanmu,aku hanya bisa berdo’a agar semuanya berjalan  dengan lancar.”kata Sandra mulai tenang
“Terima kasih Sandra kau sudah mengizinkan aku untuk di operasi.”kata Dennis
Hari semakin gelap dan mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah.
            Satu minggu berlalu,hari ini Sandra berada di rumah Dennis untuk bersama-sama ke rumah sakit,Dennis akan di operasi hari ini. Sebelum Sandra menemui Dennis di kamarnya,dia menemui ke-dua orang tua pemuda itu.
“Terima kasih kamu mau menemani Dennis di rumah sakit!”kata mamah Dennis. “Dennis terlihat lebih semangat menjalani hari-harinya setiap bersamamu!”
“Oom,tante,”kata Sandra kepada keduanya, “saya ingin memohon satu hal!”
“Apa Sandra?”
“Sebelum saya membawa Dennis ke rumah sakit,saya ingin membawanya ke suatu tempat!”
Papah dan mamah Dennis terdiam.
“Saya mohon satu jam saja!”kata Sandra memohon.
“Baiklah Sandra!”katanya, “kau boleh melakukannya”.
“Terima kasih omm,tante”kata Sandra lega.
“Kau sudah siap?”tanya Sandra ketika melihat Dennis turun dari tangga.
Dennis mengangguk.
            Satu jam kemudian,Dennis menatap Sandra kebingungan. Mereka berhenti di sebuah taman rekreasi.
            “Kenapa kau membawaku kesini?”tanya Dennis, “bukankah kita harus ke rumah sakit?”
            Sandra malah balik bertanya, “pernahkah kau kemari?”
            Dennis menggeleng.
“Waktu itu kamu pernah bilang bahwa kamu tidak bisa merasakan kehidupan normal seperti orang lainnya,nahh ssekarang aku akan memberimu kesempatan untuk merasakan kehidupan norrmal selama satu jam di taman rekreasi ini”.
            Dennis sangat gembira karena Sandra mengajaknya kemari,tetapi ketika melihat atraksi permainan di taman rekreasi itu,Dennis langsung mendesah,dia tidak mungkin main atraksi-atraksi yang ada di sana.
            Sandra menggenggam tangannya dan langsung menuju sebuah komedi putar. “Ayo kita naik!”
“Tapi kebanyakan yang naik anak kecil!”Dennis memprotes.
“Terus kenapa?kalau kita mau main sebaiknya kita main bersama. Aku tahu kamu tidak bisa naik atraksi yang lain,tetapi aku bisa menemanimu main komedi putar ini!”kata Sandra
            Dennis tertawa mendengar penuturan Sandra dan akhirnya mereka bermain komedi putar sampai 2x. Setelah itu mereka berfoto-foto di depan komedi putar.
“Apa kau sudah mulai menikmati kehidupan normal_mu?”tanya Sandra
Dennis menjawab dengan pasti. “Ya!”
“Kalau begitu rencanaku berhasil”kata Sandra.
            Sandra membawa Dennis berkeliling taman rekreasi selama beberapa saat. Ketika 1 jam berlalu,mereka kembali ke pintu keluar. Sambil kembali ke mobil,Sandra berkata dengan serius.
“Dennis ada yang ingin aku katakan!”kata Sandra
“Apa itu?”
Sandra menggenggam tangan Dennis. “Saat kamu di operasi nanti,aku tidak mau kamu takut pada apapun. Kamu tidak usah takut kehilanganku,aku akan selalu menemanimu. Aku berjanji tidak akan kenapa-napa walaupun kamu tidak berhasil di operasi,kamu pasti bisa melakukannya,jadi lakukanlah operasimu dengan tenang.”
            Dennis menggenggam tangan Sandra. “Aku juga tidak ingin kamu takut kehilangan aku. Apapun nanti yang terjadi aku akan selalu ada di hatimu.”
“Aku tahu”kata Sandra berkaca-kaca
“Terima kasih untuk rekreasinya,ayo kita ke rumah sakit sekarang!”
Sandra mengangguk.
            Sepanjang perjalanan ke rumah sakit mereka selalu bercanda. Dennis tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Sandra. Lalu tiba-tiba Dennis merasa sesak napas dan Sandra sangat panik.
“Dennis kamu kenapa?”tanyanya gelisah
“Sandra.....,”kata Dennis lemah
“Jangan berbicara Dennis,istirahatlah!”
            Dennis menggenggam tangan Sandra, “Sandra aku rasa waktuku telah tiba. Jangan sedih,aku yakin kamu akan baik-baik saja.”
Setelah itu Dennis tidak sadarkan diri. “Dennis....!!” Sandra menjerit keras.
            10 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit dan Dennis langsung di bawa ke ruang operasi,orang tua Dennis sudah menunggu di sana.
Setelah 1 jam dokter keluar dari ruangan operasi. Melihat ekspresi Dokter tersebut,Sandra tahu bahwa Dennis telah pergi. Mama Dennis menjerit sambil menangis,sementara papa Dennis memeluk istrinya dan tak lama kemudian ikut menangis.
            Sandra tidak percaya bahwa Dennis sudah tiada. Satu jam yang lalu mereka masih tertawa gembira di taman rekreasi, kini Sandra tidak bisa mendengar tawa pemuda itu lagi. Ketika melihat para suster membawa tubuh Dennis keluar dari ruang operasi, Sandra langsung mengahampirinya. Dennis seperti sdang tidur. Sandra meraih tangan Dennis dan menangis sekeras-kerasnya.

                        “Terima kasih untuk kebersamaaan kita selama ini. Pergilah dengan tenang dan percayalah aku akan baik-baik saja disini, dan aku tidak akan melupakanmu”.

Sabtu, 14 Desember 2013

Cerpen Karya aku nih :)

“Jilbab Merah untuk Liyah”
(Karya : Siti Jamaliyah)

              Ketika malam tiba,seperti biasanya aku bersama teman-temanku berangkat menuju tempat favorit kita yakni menuju club malam. Ya, setiap malam aku selalu menghabiskan waktuku bersama teman-teman di tempat tersebut. Disanalah tempatku untuk menghilangkan sedikit bebanku karena banyak masalah yang ada dirumahku. Ditempat ini, aku meminum minuman keras dan tidak terkecuali memakai obat-obatan terlarang. Semua itu aku lakukan karena memang kurangnya kasih sayang dari orangtuaku,mereka selalu memikirkan uang..uang..dan selalu uang. Belum lagi ketika dirumah mereka selalu bertengkar hanya karena hal yang sepele yang selalu di besar-besarkan.
              Sebut saja aku Liyah, seorang siswi kelas 12 di SMAN 1 Karya Bhakti. Dulu ketika aku masih duduk di sekolah dasar aku di kenal pendiam, tetapi setelah memasuki masa remaja atau sejak SMP sifatku yang pendiam itu mulai tergantikan dengan sifatku yang nakal. Ya mungkin karena faktor pergaulannya dan memang aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang orangtua. Sejak kecil aku dirawat sama bi Inah, seorang pembantu rumah tangga yang lebih aku anggap sebagai pengganti orangtuaku. Akan tetapi, bi inah sudah tidak bekerja lagi di rumahku dan entah dimana keberadaannya saat ini.
              Malam itu, pukul 02.00 aku memutuskan untuk pulang kerumah dan karena aku sedang dalam keadaan mabuk, teman cewekku yang akhirnya mengantarku pulang. Tidak lama kemudian akhirnya sampai di rumaku, aku turun dari mobil dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada temanku ini. Saat ku buka pintu aku sudah mendengar pertengkaran orangtuaku, disana aku sudah merasa muak mendengarnya dan aku langsung menuju kamarku dan ku banting pintu kamarku sangat keras. Aku langsung membaringkan diri di atas kasur dan tak lama kemudian aku pun terlelap.
              Sang fajar telah terbit dari timur dan menyilaukan kamarku sehingga dengan malasnya aku segera menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah selesai memakai baju, lalu aku turun ke bawah untuk sarapan, namun seperti biasa disana aku hanya bisa menghela nafas karena di meja makan selalu dan selalu hanya seorang diri, orangtuaku sudah berangkat ke kantor sejak subuh.
              Pada pukul 07.00 aku baru saja sampai di sekolah,dengan santainya aku menyusuri koridor sekolah menuju kelas, padahal aku sudah tahu kalau dikelas pasti sudah ada guru yang sedang mengajar saat aku masuk kelas, sebut saja Ibu Heni sedang berkacak pinggang sambil melototkan matanya bertanda bahwa dia sangat marah.
              “Liyah, sampai kapan kamu akan terlambat seperti ini hahhhhh???” kata Ibu Heni dengan gentakan kerasnya yang menggetarkan seisi ruangan kelasku.
              “maaf  bu, tadi di jalan macet” kataku dengan santainya menjawab pertanyaan Ibu Heni .
              “Sudah jangan banyak bicara, kamu selalu beralasan seperti itu, sekarang kamu berdiri di depan kelas dan angkat satu kaki kamu sambil tangan pegang telinga kamu” gentaknya kembali.
Ya, itulah keseharianku setiap masuk kelas selalu mendapat hukuman.
              Pagi telah berganti siang, tepat pukul 14.30 bel sekolah pun berbunyi, bertanda sudah berakhirnya kegiatan belajar mengajar hari ini. Aku pun bergegas menuju mobilku dan langsung menyalakan mobilku menuju salah satu Mall yang ada dikotaku. Disana, aku pergi ke butik langgananku hanya untuk membeli sepotong atau dua potong baju dress yang aku suka. Setelah membeli baju, ku sempatkan pergi ke restoran dekat butik itu, karena dari tadi perutku sudah lapar. Tak terasa waktu pun kini mulai petang, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah ku rebahkan tubuhku yang lelah ini untuk beristirahat sejenak.
              Malam ini, aku bersiap diri di cermin rias untuk pergi ke tempat favoritku,yakni club malam. Malam ini aku memakai dress mini di atas lutut yang baru tadi di beli dari butik dan memakai sepatu hak tinggi berwarna selaras dengan bajuku.
              Tidak tahu akan kondisi hatiku yang sedang tidak karuan membuatku minum yang berlebihan malam ini yang menyebabkan diriku ini hampir pingsan. Akan tetapi, ketika aku dalam keadaan setengah sadar ada seorang lelaki yang membawaku keluar, entah dia siapa karena memang aku tak mengenalnya. Dia membawaku ke dalam mobilnya dan tanpa dugaanku, ternyata dia punya niat untuk memper***a aku. Dengan keadaanku yang setengah sadar karena mabuk, aku mulai berteriak meminta tolong.
              “tolong aku,,tolongggg!”.
              “tidak akan ada orang yang akan menolongmu nona manis” katanya sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
Namun, tidak lama kemudian, ada seseorang yang akhirnya menolongku. Dia dengan segera memecahkan kaca mobil dan berusaha membuka pintu mobil itu supaya aku bisa keluar. Sebelumnya karena seorang lelaki itu sudah memanggil polisi, datanglah polisi membawa orang yang ingin memper***a aku itu. Ketika aku berdiri, dia memakaikan jas nya untuk menutupi tubuhku.
              “Terima kasih telah menolongku, jika tidak ada kamu maka akuuuuuuuuu............” tak sempat aku teruskan ucapannku, karena dia langsung memotong dengan perkataan nya.
              “sama-sama, sudahlah yang penting kamu sekarang tidak apa-apa kan? Lain kali, janganlah kamu pergi ke tempat haram itu lagi dan jadikan ini sebagai pelajaran untukmu”.
Sungguh sangat menyentuh hati kata-kata lelaki ini, aku sadar akan kesalahanku tentang hal ini yang dapat mengundang dosa yang lebih besar lagi. Aku pun tersadar pada lamunanku ini, karena temanku telah berada di sampingku. Dia pun kemudian berrpamitan kepadaku dan temanku dan entah berlalu dengan mebil yang dikendarainya. Setelah dia pergi, akupun diantar oleh temanku pulang menuju rumahku.
              Sejak kejadian itu, aku selalu terbayang akan sosok lelaki yang menolongku itu. Terbayang akan kata-kata yang sangat menyentuh hatiku itu. Sejak saat itu, sedikit demi sedikit aku pun biasa meninggalkan kebiasaan burukku pergi ke club malam. Apalagi meminum-minuman keras.
              Suatu hari , saat aku pulang sekolah aku melihat lelaki itu sedang menolong seorang nenek yang sedang menyebrangi Zebra Cross.
              “sungguh baik hati lelaki itu”. Kataku dalam hati.
Lalu aku keluar dari mobil dan menghampirinya.
              “Hy”.
              “Assalamu’alaikum”. Katanya mengucapkan salam.
               “Waalaikumsalam”. Jawabku dengan sedikit menanggung malu.
              “oh iya,boleh tahu siapa nama kamu? Kemarin tidak sempat berkenalan”. Kataku sambil menyodorkan tanganku.
Tetapi dia tidak menyalami tanganku, tak lain hanya mengangkat tangannya karena pemikiran dia, kita bukan muhrim.
              “namaku Nafis, kamu?”.
              “namaku Liyah”. Jawabku sambil menurunkan tanganku dan tersenyum.
Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya aku memutuskan memberanikan diri untuk memintanya mengajariku tentang agama.
              “Maukah kamu mengajariku semua tentang Agama Islam? Aku ingin belajar mendekatkan diri kepada Allah SWT.” Kataku dengan penuh harapan.
              “Alhamdulillah, jika kamu ingin bertaubat, dengan senang hati aku akan mengajarimu”. Jawabnya sambil menyunggingkan senyum indahnya yang membuat hatiku senang.
              Keesokan harinya, setelah pulang sekolah aku menuju sebuah Masjid yang memang sebelumnya sudah dijanjikannya itu. Saat aku mulai masuk ke dalam Masjid, hatiku seakkan bergetar akan teringat dengan dosa-dosaku yang tidak pernah melaksanakan perintah Allah. Namun, ketika mengingat Nafis yang akan mengajariku aku langsung menuju kedalam Masjid dengan bersemangat. Lalu ku duduk di depan Nafis, namun karena aku masih memakai baju seragam dengan rok yang pendek, Nafis pun menutupi kakiku dengan sehelai kain.
              “Alangkah baiknya jika kamu menutupi auratmu itu, Liyah”. Sambil tangannya memberiku sebuah Jilbab Merah.
Ya, memang aku seorang yang menyukai warna merah dan dia pun mengetahuinya. Dengan hati yang sangat senang, aku mengambil jilbab itu dan memakaikannya di kepalaku. Ku lihat dia tersenyum ketika aku memakaikan jilbab itu, entah kenapa aku merasa sangat senang melihatnya tersenyum seperti itu. Dalam hatiku selalu bertanya, apakah dia juga mencintaiku seperti aku mencintaiku. Kemudian aku mulai diajarinya dimulai dari solat, mengaji dan yang lainnya. Hari pun mulai petang, aku dan dia memutuskan untuk pulang.
              Di pagi harinya tepat pukul 06.00, saat aku berangkat sekolah aku memutuskan untuk memakai baju seragam panjang dan memakai kerudung. Saat menuruni anak tangga, kulihat orangtuaku yang sedang menyantap roti bakarnya, menatap heran ke padaku.
              “Liyah, apa mamah tidak salah lihat? Ini kamu nak?” tanya mamahku dengan herannya.
              “iya mah, ini Liyah, anak mamah” jawabku sambil tersenyum, lalu duduk di meja makan.
              “cantiknya anak kita ya pah?” katanya berbicara kepada papahku.
              “iya mah” kata papahku menjawab pertanyaan mamahku.
              Setelah bercanda beberapa menit kemudian ku beranikan untuk berbicara kepada kedua orangtuaku.
              “mah,pah aku ingin bicara sama mamah sama papah”
              “bicara apa sayang?” jawab mamahku
              “mah, pah aku ingin seperti anak-anak yang lainnya yang selalu di perhatikan oleh orangtuanya, dan aku ingin mamah sama papah tidak lagi bertengkar”. Kataku langsung to the point.
              “nak, maafkan papah sama mamah, kami terlalu sibuk sama pekerjaan kami dan jika kamu menginginkan seperti itu, papah sama mamah akan melakukannya demi kamu nak”. Jawab papahku sambil terdengar isak tangisnya. Kami bertiga saling berpelukan, dan tak terasa jam tanganku menunjukan pukul 06.45 bertanda aku dengan segera berangkat menuju sekolah. Tak lupa aku berpamitan kepada orangtuaku.
              “mah, pah aku berangkat sekolah dulu ya, assalamualaikum”. Pamitku sambil mencium kedua tangan mereka. Sungguh sangat bahagianya aku, bisa mencium kedua tangan orangtuaku saat berpamitan sekolah seperti ini.
              Saat aku menyusuri koridor sekolah, semua orang menatapku dengan heran. Seorang yang tadinya di kenal sebagai anak badung, kini terlihat anggun dengan memakai seragam panjang dengan balutan jilbab di kepalanya. Aku pun tiba di kelasku, hari ini aku tidak terlambat seperti biasanya. Teman-teman sekelas pun menatap heran kepadaku, tetapi aku acuhkan saja mereka dan membaca buku pelajaran. Tak lama kemudian Ibu heni pun masuk, dan dia sedikit terkejut karena aku sudah berada di kelas sebelum dia masuk. Dan lebih terkejutnya karena mulai hari ini aku mulai berjilbab. Kami pun memulai kegiatan belajar mengajar.
              Pulang sekolah, kusempatkan pergi ke mesjid yang biasanya Nafis berada. Tetapi, mengapa saat ini dia tidak ada.
              “sudahlah, mungkin hari ini dia tidak sempat kesini, ya sudahlah mending sekarang mending aku solat dulu disini”. Kataku sedikit kecewa dan langsung melaksanakan solat dzuhur.
              Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah 2 bulan ini aku tidak mengetahui dimana Nafis berada. Hatiku sungguh sedih, mengapa disaat aku mencintai seseorang dengan tulus, dia malah menghilang dari kehidupanku.
              Hari ini aku mendapat informasi bahwa Nafis bekerja di salah satu perusahaan di kotaku. Akupun langsung menuju ke perusahaan tersebut untuk menanyakan keberadaan Nafis sekarang. Akupun memasuki kantor dan langsung menanyakan ke bagian Resepsionis.
              “selamat siang mba”.
              “selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”.
              “maaf mba, saya mau nanya apa disini ada pegawai yang bernama Nafis?”
              “ohh, sebentar saya lihat dulu”. Kata resepsionis tersebut sambil mengecek data yang ada di komputer.
              “maaf mba, pegawai yang bernama Nafis sekitar 2 bulan yang lalu sudah tidak bekerja disini lagi”
              “oh begitu, memangnya dia kenapa mba? Dipecat atau ditugaskan ke perusahaan lain?”
              “bukan, memangnya  mba tidak tahu sekitar 2 bulan yang lalu pegawai yang bernama Nafis telah meninggal dunia karena penyakit kanker hati yang di deritanya”.

              Aku sangat terkejut, dan tidak bisa menerima kenyataan ini sehingga aku tergeletak tak berdaya.

Sabtu, 16 November 2013

Lirik Lagu Fatin Shidqia - Cahaya di Langit Itu

Ketika cahayamu menerangi duniaku
Sentuhan tangan itu memelukku penuh
cinta
Saat dalam keangkuhan dan
meremehkan takdirku
Setiap ku dalam cinta
Hampir kehilangan arah
Tersadarku dan berpikir
Ridhonya suraga duniaku
#Reff
Seperti ku terbang di langit tinggi
Temui satu titik cahayamu
Kulihat ada malaikat kecilmu
Membisikkan kan ku tuk tetep disini
Bersimpuh
Perjalanan ini
Kuatkan imanku
Ku arungi hidup
Nilai cinta dengan kasihMu
Seperti ku terbang di langit tinggi
Temui satu titik cahayamu
Kulihat ada malaikat kecilmu
Membisikkan kan ku tuk tetep disini
Bersimpuh
Seperti ku terbang di langit tinggi
Temui satu titik cahayamu
Kulihat ada malaikat kecilmu
Membisikkan kan ku tuk tetep disini
Bersimpuh

Nilai cinta dengan kasihMu